Syarat konser yang gue tonton adalah :
1. Gue menyukai (bukan hanya mengetahui) minimal 3 lagu dari artis tersebut
2. Jika gue bukan fans nya, maka harga tiket harus di bawah 300rb. Jika gue fans nya, sedikit di atas 300rb akan masih gue pikirkan apakah akan gue tonton apa ngga.
3. Ada teman menonton minimal 1 orang
Nah, karena konser Story of The Year kemarin memenuhi semua persyaratan di atas, maka gue pun menontonnya. Dan hasilnya, gue senang.
Persiapan nonton konser ini sangatlah mudah. Gue mendownload semua lagu dari semua albumnya, dan mendownload beberapa music video nya. Dari semua lagu SOTY, gue hanya tahu 3 lagu : ”Until The Day I Die”, ”Sidewalks”, dan ”Anthem of Our Dying Day”. Dan setelah gue mendengarkan lagu-lagu lainnya, gue tetap hanya suka 3 lagu itu. Karena pilihan lagu SOTY itu kalo ngga bagus, ya berisik. Haha. Jadi gue tidak membutuhkan effort untuk menghafalkan lagu-lagu lainnya.
Gue menonton bersama Wina, bertemu di cempaka putih, dan sempet makan dulu. Setelah makan, kami pun naik taxi menuju Senayan. Lokasi konser SOTY agak sangat kebanting, mengingat konser terakhir yang gue tonton sebelum SOTY adalah konser linkin Park di dalam Gelora Bung Karno dan sangat megah menggelegar. Sementara konser SOTY ini terletak di parkiran GBK dengan panggung dan Sound System ala kadarnya, layaknya pentas seni anak-anak SMA. Haha, miris.
Saat kita datang, crowd masih sepi. Dan konser pun dibuka dengan penampilan band gegerowokan yang pertama. Setelah band gegerowokan yang pertama selesai main, band gegerowokan yang kedua pun keluar. Dan setelah band gegerowokan yang kedua selesai main, band gegerowokan yang ketiga pun keluar untuk main. Gue dan Wina yang pada dasarnya tidak menyukai band gegerowokan pun hanya duduk-duduk di pinggiran sambil mengeluarkan komentar-komentar jahat (as usual).
Baru saat band gegerowokan yang ketiga hampir selesai bermain, gue dan Wina berdiri menyelip-nyelip mencari posisi enak buat nonton. Dan kami pun sukses nyempil di barisan cukup depan.
Dan lagu pertama SOTY pun di mulai. Dua puluh detik lagu pertama mulai dimainkan, gue dan Wina pun terdesak-desak di antara kerumunan pria-pria tidak begitu kekar, kira-kira sebaya dengan kami, namun cukup bertenaga untuk membuat rusuh. Dengan segala kesadaran, kami pun mundur mempersilakan pria-pria itu membuat lingkaran mosh pit dan saling bertubrukan di dalamnya.
Melihat lingkaran rusuh itu, gue bukannya sebel tapi malah tersenyum menikmati. Orang-orang yang ikut rusuh di tengah mosh pit itu terliat melebur dalam dentuman musik dan teriakan-teriakan yang mengiringinya. Benar-benar suasana konser rock yang ideal. Menggambarkan karakter musik rock itu sendiri, keras, rusuh, dan diperuntukkan bagi manusia yang siap rusuh. Bukan manusia-manusia bersih dan trendi. Haha.
Penampilan SOTY di konser ini pun sangat mendukung terjadi nya kerusuhan. Tidak seperti Westlife yang menghentikan konsernya karena penonton berdesak-desakan, personil SOTY malah memerintahkan penontonnya untuk membuat kerusuhan. Dan tentu saja penonton mematuhi perintah tersebut.
Di atas panggung, personil SOTY tidak kalah rusuhnya dengan penonton. Mereka berlarian dari satu pojok panggung ke pojok yang lain. Melompat-lompat di tempat. Salto 360 derajat sambil memainkan gitarnya. Dan menyemburkan air dari mulut sambil gegenjrengan di pinggir panggung. Debus dan akrobatik.
Bukan konser yang akan gue ingat sepanjang masa, tapi merupakan konser rock yang seharusnya. Konser kali ini judulnya, menonton konser rock. Bukan menonton sang artisnya. Rock Show is about the music, the crowd, not about the performers. Haha.

0 comments:
Post a Comment