Wednesday, October 5, 2011

Tujuh Belas

Tujuh belas agustus. Hari kemerdekaan bangsa gue, Bangsa Indonesia. Hari yang dulu-dulu, waktu gue masih muda selalu diisi sama yang namanya upacara. Dan saat gue uda berani bolos upacara, gue isi dengan tidur-tiduran atau jalan-jalan bersama teman-teman tercinta, taun ini gue isi dengan jalan-jalan sendirian keliling Jakarta.

Di tengah panasnya Jakarta, dalam kondisi puasa, niat jalan-jalan keliling Jakarta gue sangatlah tidak terbendung. Gue meminta temen-temen gue untuk menemani hasrat tak terbendung gue ini, tapi ngga ada yang mau. Gue sangat ngerti sih kenapa mereka ngga mau. Jadinya, walhasil, gue pun jalan-jalan sendirian berkeliling kota Jakarta.

Karena tidak ada mobil pinjeman yang bisa gue kendarai di Jakarta ini, gue pun memilih Bus Transjakarta sebagai alat transportasi yang membawa gue mengelilingi Jakarta. Alasannya sederhana, bus transjakarta itu nyambung dari ujung ke ujung. Jadi kalo nyasar, gue bisa ngambil bus arah sebaliknya dan (kayaknya) bisa kembali ke tempat awal. Alasan kedua, karena gue belum hapal sama angka-angka yang tertempel di depan muka alat transportasi yang lain. 43, 03, 30A, 37, 47, adu semuanya terasa mirip di kepala gue. Kenapa sih angkutan di Jakarta ngga berwarna-warni indah seperti di Bandung dengan jurusan yang jelas terpampang, dan semua orang familiar dengan nama-nama panjang seperti Gedebage Stasiun Hall, Magahayu Ledeng, Riung Dago. See, lebih mudah diingat.

Tempat pertama yang gue tuju adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Gue penasaran pengen ke Tanjung Priok karena gue belum pernah melihat dunia setelah shelter Sunter-Kelapa Gading. Ada apa setelah shelter itu, gue ga pernah tau. Di dorong rasa penasaran tersebutlah gue memutuskan untuk menyusuri busway koridor tersebut sampai shelter penghabisan.

Ada apa di sepanjang perjalanan gue ke Tanjung Priok? Ada jalan besar berdebu yang sedang di bangun di sisi-sisi nya. Penuh kendaran besar mengangkut entah apa. Kondisinya sangat mirip Jalan Soekarna Hatta di bandung di sekitar terminal Leuwi Panjang. Gersang, berdebu, dan terlihat tough.

Sesampainya di pelabuhan Tanjung Priok, mata gue dimanjakan dengan tumpukan container. Tumpukan container yang mengingatkan gue akan masa-masa TA gue yang kalo sekarang diinget-inget, cukup indah.

Turun bus, ngetweet, tengok-tengok kiri kanan, beli tiket lagi, naik bus lagi. Haha.

Tujuan selanjutnya gue pergi ke kota tua. Tempat wisata di Jakarta yang sering diheboh-hebohkan. Tapi mau sebagus apapun sebuah tempat wisata, kalo dateng sendirian rasanya agak-agak gimanaaaaa gitu. Mana hari itu museum-museum pada tutup semua. Jadi gue ga bisa nerd-tour deh.

Kota tua hari itu penuh dengan rombongan muda-mudi bersama teman-temannya. Ada yang kayaknya rombongan sesekolah, sekampus, sekomplek, sekeluarga, sesuku, dan sebagainya. Pasangan-pasangan yang sedang dimabuk cinta juga banyak. Dan gue sendirian.

Di pojokan ada kafe yang kayaknya cozy buat duduk dan baca buku. Tapi gue puasa. Gagal rencana baca buku di kafe dengan kerennya sambil ngarep didatengin cowok ganteng macam Rio Dewanto. Di gang-gang sekitar kota tua, ada toko baju yang ngejual baju-baju yang tidak jelas statusnya apakah baju baru apa baju bekas. Gue yang doyan baju-baju gede bage pun bersemangat untuk menjelajah. Tapi saat mendekat selera gue hilang. Tokonya dikit, bajunya dikit, dan dari jauh tidak ada yang catchy dan menarik. Batal shopping tour nya. Satu-satunya hiburan yang tersisa adalah sepeda. Tapi gue ga bisa naik sepeda. Tapi gue masih belum pengen pulang (akhir-akhir ini hidup gue sering dipenuhi kebimbangan-kebimbangan sejenis ini).

Akhirnya gue pun memberanikan diri untuk (belajar) main sepeda. Dengan mengasumsikan tidak ada orang yang gue kenal di sana, biar kalo jatoh gue ga malu-malu amat, gue pun mengendarai sepeda mengelilingi kota tua. Muter sana, muter sini, ngerem sana, ngerem sini, dan ngindarin anak orang yang lebih jago sepedaan dari gue. Sewa sepeda di kota tua itu (seinget gue) IDR 20,000 sejam. Nah karena gue cupu dan ga kuat mempermalukan diri lebih lama lagi, hanya 20 menit, gue pun menyudahi aktivitas bodoh ini.

Dan gue pun bergerak dari kota tua tanpa oleh-oleh apapun selain ingatan di kepala gue yang gue tuliskan di post-an kali ini. No photo, no merchandise, nothing at all. Aneh juga kan foto-foto sendirian di sana. Haha.

Secapeknya dari kota tua, gue pun melanjutkan jalan-jalan gue ke pusat kota. Ke salah satu emoll yang paling keren di Jakarta : Grand Indonesia. Untuk berbuka puasa bersama Tiwi dan Mamam. Gue dateng duluan, dan menghabiskan waktu satu jam sendiri untuk memilih mau buka puasa di mana, karena di GI restoran gahul nya buanyak banget. Mulai dari masakan jepang, italia, korea, jawa, sunda, padang, semua ada dan semua mahal. Haha.

Dan petualangan hari itu pun berakhir.

Selamat hari kemerdekaan! #latepost #betterlatethannever


0 comments: