“Win, mau liat foto-foto ke Tidung gue ga?”
“Nope. What do you expect in that kind of trip? Water, water, and more water”
Gue sebenernya sangat sepakat dengan pendapat Wina itu. Gue ga pernah menikmati yang namanya liburan untuk mendekatkan diri kita ke alam. Memanjakan mata, titik. Gue adalah tipe orang yang mengisi otak gue dengan cerita, bukan dengar gambar. Dan sepanjang perjalanan gue ke Tidung kemarin gue bener-bener seneng. Bukan karena pantai, laut, dan segala macam pesonanya, tapi karena cerita-cerita seru dan manis yang terjadi bersama temen-temen gue.
Serangan Subuh, Melalaikan Tanggung Jawab
Jam 5 lewat kosan gue sudah diserbu rombongan pria yang menitipkan motor. Membuat gue bersiap-siap dengan terburu-buru. Dengan mata masih berat, tapi excitement yang membuncah.
Gue, Marien, Mba Ria, Mba Titin, Mas Danu, Mas Prima, Mas Ali, berjalan kaki menuju Plasa Dwima. Dengan Mas Dannies sudah menunggu kita di sana dengan Taxi nya. Mas Rizal, Syella, dan Adiknya menyusul langsung bertemu di Muara Angke.
Kita naik dua taksi. Asik ngobrol, nyanyi-nyanyi di Taksi, sampe di deket muara angke gue teriak. “aaaaaah, maafkaan gueee!” Satu ransel penuh berisi cemilan dan kawan-kawan lupa gue bawa. Dan uda deket muara angke, dan kapal uda mau berangkat, dan ngga mungkin balik.
Semua orang ngeliat gue dengan tampang pengen nabok, “mulai detik ini lo bakal kita bully-bully”
“Well, bully me!”
Pesona Muara Angke
Gue belum pernah ke Muara Angke sebelumnya. Belum pernah melihat pelabuhan nelayan yang becek, bau, dan padat seperti ini. Yang gue anggap sangat menarik dari Muara Angke adalah tone warnanya bagus. Dominasi biru, tapi sebenernya warna warni, tapi butek. Bagus lah pokoknya.
Di Muara angke berkumpul banyak sekali orang dengan style yang kurang lebih sama. Jins, Kaos, Backpack. Kami berkumpul. Nelponin Mas Rizal dan Syella yang belum kumpul. Ngerokok bagi yang ngerokok, ngoceh bagi yang suka ngoceh, mainan HP bagi yang ngga jelas mau ngapain.
EO kita untuk trip kali ini adalah Mas Dannies. Abrakadabra, semuanya dia yang ngurusin. Kita tinggal menurut dan mengikuti kemanapun Mas Dannies pergi.
Up, we go!
Human Trafficking
Kami berangkat ke Tidung menggunakan kapal nelayan yang disulap jadi kapal penumpang. Lesehan layaknya korban Human Trafficking. Duduk, tanpa cemilan (Iya, salah gue), main uno, ketawa-ketawa, foto-foto.
Kata Mas Dannies, ongkos naik kapal nelayan ini : IDR 40,000. Kalo Naik kapal penumpang beneran : IDR 400,000. Well, semua orang waras pasti milih naik kapal nelayan ini lah ya. Lesehan, dempet-dempet-an sama sekali ngga mengurangi excitement kami. Tidung, Here We Come!
Tidung 1 of 1000 Islands
Sesampainya di Tidung, kami sudah dijemput oleh guide kami. Tidung adalah pulau kecil yang dipenuhi rumah-rumah kecil dengan dilengkapi spanduk besar nama-nama yang dirasa menjual dengan promo fasilitas yang kurang lebih sama, dengan kipas menempel didinding luar pertanda rumah-rumah kecil tersebut dilengkapi AC.
Rumah kami (gue lupa namanya), berdinding biru, dengan halaman yang dipenuhi sepeda, teras mungil, dua kamar tidur ber AC yang disewakan, ruang tengah yang dikosongkan, dan bagian rumah lain yang ditinggali penghuni sebenarnya.
Kamar para wanita di depan, dan para pria di belakang. Barang ditaruh. Kaki diluruskan. “Ayo jalan-jalaaaaaaannn!”
Bicycle Race
Kendaraan utama yang disediakan untuk mengelilingi tidung adalah sepeda. Celakanya, kemampuan mengendarai sepeda gue kurang baik. Skala 2 dari 10 lah. Jadilah gue kemana-mana menggantungkan diri gue pada orang lain. Parasit. “Aaah, Ina berat!” “Ngga berat kok, cuma ngga ringan juga” silih berganti dilontarkan oleh Mas-mas dan Mba-mba yang gue parasiti.
Dudukan bagian belakang sepeda yang keras dan menyiksa setiap kali ada polisi tidur harus gue hadapi dengan tabah. Sakit, sih. Tapi salah sendiri ga bisa naik sepeda.
Perahu Pisang
Sore harinya, kami pun mulai nyebur-nyeburan. Sebagian dari kami memilih wahana Banana Boat, sebagian lagi memilih main kano. Gue memilih Banana Boat.
Ini adalah pertama kalinya gue main banana boat. Hal yang ada di kepala gue saat main banana boat adalah. Pasti si mas-mas yang narik banana boat ini puas banget sama kerjaannya. Kerjaannya bikin orang jatoh dari banana boat. Sehari bisa bikin orang nyebur berapa kali. Ngerjain orang dan dapet duit. Haha. Asik.
Hal kedua yang ada di kepala gue adalah. Kenapa harus pisang. Banyak sekali benda di dunia ini yang bentuknya mirip sama perahu itu. Cucumber Boat, Terong Boat, Pencil Boat, dan sebagainya. Kenapa orang-orang milih pisang ya?
You Jump, I Jump
Wahana kedua yang gue mainkan sebenernya adalah wahana illegal. Ngga ada mas-mas atau mba-mba petugas yang bertanggung jawab akan wahana ini. Istilah legendarisnya, Feel Free at Your Own Risk lah ya. Wahana ini adalah melompat dari jembatan cinta.
Gue ga peduli mitos blablabla yang diceritakan orang-orang. Yang ada di pikiran gue adalah GUE HARUS LONCAT. Gue inget banget dulu pas rafting di pangalengan, di saat hampir semua orang berani lompat, gue ngga berani, dan gue menyesal. Sekarang gue harus berani.
Gue lakukan. Dan gue kecanduan.
Menerobos pagar. Pegangan. Ngeliat air yang ada di bawah lo. Dan rasa takut itu muncul. Tapi dorongan rasa harus lebih kuat. Dan gue ngelangkahkan kai gue, tau ngga aka nada pijakan untu kaki gue, tapi gue pura-pura ga tau, dan gue jatuh. Jatuh bersama semua organ tubuh gue yang menolak untuk jatuh, sehingga sensasi menahan jatuhnya luar biasa, tapi gue tidak kuat lagi, jadinya gue pasrah, dan akhirnya kaki gue menyentuh air dengan cepat, dan badan gue sudah tenggelam di air seutuhnya. Refleks gue dengan cepat mendorong gue untuk mencari udara di permukaan dan bernafas normal. AWESOME!
Dan gue mengulanginya, lagi, lagi, dan lagi. Sampe 4 kali.
Yang ikutan lompat : Mas Prima dengan gaya batunya, Mba Titin dengan waktu mengumpulkan nyali sampe setengah jam dan jadi kenalan dan disemangatin ama banyak stranger, Marien yang bermasalah sama kupingnya tapi pengen, Mas Dannies yang ternyata tidak sixpack, dan Mas Rizal yang bocah pulau.
Buat yang lain : You miss the awesomeness of the world.
Uno, Capsa, You Name It
Di manapun, kapanpun, kami selalu ditemani oleh kartu Uno. Dan saat ditidung, karena excitement berlebihan kami, kartu Uno kami anggap kurang, jadi kami pun meminta guide kami untuk berkeliling pulau mencari kartu remi. Dan kami pun secara bergantian, sesuai mood memainkan Uno, Capsa, dan beberapa permainan lainnya.
Satu permainan baru yang diperkenalkan pada gue di tidung ini adalah permainan bohong-bohongan. Permainan yang membutuhkan skill muka lempeng dan logika dasar kalo bohong harus masuk akal serta sikap percaya ngga percaya sama lawan main lo.
Well I suck at this game. I don’t like lying and being lied to.
Pem-Bully-an Masal
Malam hainya acaranya adalah barbecue di tepi pantai. Namun hujan mengguyur Tidung, jadilah kami kembali ke penginapan, dan makan di sana. Gue mencoba mengeluarkan permainan ABC Pancasila. Nama Jalan di Bandung. Tapi ngga seru.
Gue tiba di kesimpulan bahwa setiap kelompok punya mainan pemersatu nya masing-masing. Dan kelompok temen kantor gue ini, permainan pemersatunya adalah Uno. Bukan yang lain. Permainan pemersatu temen kuliah gue adalah permainan #plesetan, dan permainan pemersatu temen SMA gue adalah permainan ABC Pancasila. Ngga mungkin tukeran.
Malam di Tidung ini kami tutup dengan bermain Uno dan membully Mas Prima dengan pertanyaan-pertanyaan superbodoh. Harusnya semua pertanyaan bodoh kita itu direkam. Gue ketawa sampe mau gila. Semua ketawa sampe mau gila. Dan Mas Prima pasrah, ga bisa jawab apa-apa. Hahaha.
“Apakah anda, menyukai salah satu di antara kami?” #sengkle #sakitGR
Snorkeling = berenang dan berendam
Pagi-pagi, kami digiring untuk kembali ke pelabuhan dan bergerak untuk melakukan Snorkeling. Snorkeling = menikmati keindahan alam = gue tidak peduli. Jadi gue ganti aktivitas hari itu dengan nama berenang dan berendam.
Airnya dingin. Pelampungnya enak buat tiduran terlentang di air. Tapi gue ribet sendiri ama kerudung gue. Takut copot. Haha.
Apakah karangnya bagus? Hmm, pertanyaan yang ngga bisa gue jawab karena gue sama sekali ngga ngeliatin karang yang ada di bawah gue.
Friends: the happy factor
Mari kita masuk ke bagian peserta Tidung Trip ini. Teman-teman saya. The Happy Factor, yang mengisi kepala saya dengan cerita-cerita dan membuat perjalanan ke Tidung saya menjadi super menyenangkan.
Photograph by : Dani Nugroho
1. Marien
Temen sekosan saya. Satu-satunya wanita di divisi penuh berisi pria. Atlet Softball. Saat ke Tidung hal yang paling dia banggakan adalah kacamata Jarwo nya. “Tuh kan, semua yang pake kacamata gue pasti bagus” Ya, ya, ya.
2. Mba Ria
HRD Sengkle. Menyukai tantangan (contohnya : pria berpacar atau pria beristri). Hobi : Galau dan ngaca. Bersama gue dan Marien menjadi otak dalam acara pembully-an sengkle di Tidung.
3. Mba Titin
Wanita pembalap. Suka marah-marah penuh kasih sayang, kayak mama. Pelaku kerusuhan di Jembatan Cinta. Setengah jam berdiri di pinggir jembatan, ga lompat-lompat. “ayo Titin! Ayo Titin!” sampe orang-orang ngga dikenal ikut nyemangatin dia buat nyebur.
4. Syella
Ababil korea. Suka nangis kalo lampu dimatiin atau merasa tidak enak akan apapun. Kurus karena sangat jago nyolot (nyolot terbukti bisa membakar lemak). Ngga bisa renang tapi nekat naik Banana Boat. Untung ngga kenapa-kenapa.
5. Tyas
Adeknya Syella. Tapi terlihat jauuuuh lebih kalem dan dewasa. Jagoan main capsa. Semua orang penasaran buat ngalahin dia. Mantaaaapp.
6. Mas Danu
Pria berjambang. Sie. Dokumentasi seumur hidup. Selalu bicara dengan penekanan pada huruf ‘B’. Teraniaya di Tidung karena paling sering ngebonceng gue yang berat ini.
7. Mas Prima
Butuh kesabaran atau bahasa khusus untuk berkomunikasi dengan Mas Prima. Karena jawabannya akan “hooooo” sambil geleng-geleng. Korban bully dahsyat di Tidung.
8. Mas Dannies
EO sejati. Diem (lama). ketawa kenceng (tiba-tiba). Nyeletuk. Diem (lagi). Gue piker badannya bagus, karena di kantor kalo pake kemeja badannya bagus. Ternyata perutnya buncit.
9. Mas Ali
Konsultan berwajah tengil. Kokoh yang kayaknya paling expert dalam masalah “pergaulan”. Paling penasaran ngalahin Tyas pas main Capsa.
10. Mas Rizal
Bocah pulau. Reflek mendekat kalo ada kucing. iPhone selalu melekat di tangan karena ditelponin pacar terus. Newbie Uno yang menang terus.
Demikian review Tidung Trip gue.
Gue senang. Dan gue harap semua peserta Tidung Trip juga senang. Yang penting itu, kan?


5 comments:
namanya bananaboat karena dirtyjokes bukan sih? hahaha
*diantara sekian banyak kata, yang dikomentarin yang itu* :P
inaaaaa.... asik bangeet liburan ke tidung.. aaaa kepeengen liburaan
@widyarahayu
Oh ya? What's so dirty about it *nada suara menggoda*
@iraa
ayo liburan iraaaaa.
Somehow gue gak suka sama komen lo yg seakan2 badan gue harus bagus (six pack). Apalagi dibilang buncit. Hmmm... gue rasa gue gak buncit2 amat tuh Na. yg pasti gue gak mau ceking juga kaya 4L4y-4L4y yg kurang gizi itu... I would say it as Body Fit. :P
Mgkn krn lo udah berekspektasi bhw perut gue six pack dan ternyata gak, jadi kayanya lo gak puas bgt dgn hal itu dan mengatakan perut gue buncit. well understood lah... hahaha...
Mudah2an next time u'll see me as you expected.
;)
@dash
ampun mas dannies. abisan kalo di kantor lo pake kemeja, badan lo bagus mas. jadi gue berasumsi badan lo emang beneran bagus. ternyata tidak sebagus yang gue asumsikan. haha.
Post a Comment