Tuesday, October 25, 2011

Knights on the Stage

Begitu mendengar kabar kalo Linkin Park akan konser di Indonesia, tepatnya di Gelora Bung Karno, seketika muncul gambaran video klip Faint di kepala gue. Megah, menggelegar. Suara yang maksimal kencengnya, lampu yang maksimal terangnya, dan performance di atas panggung yang maksimal semua-muanya.

Dan walopun gue bukan fans dari Linkin Park, gue sangat ingin jadi bagian dari suasana luar biasa itu. Intinya gue pengen.

Namun keinginan gue itu seketika menguap, ketika mengetahui harga konsernya. Tribun atas : 550 – 750 (padahal pengalaman waktu nonton bola di tribun atas, ga keliatan apa-apa), festival : 1,2 juta. Tribun bawah sampe VIP : 1 juta – 2.9 Juta. Mati aja.

Pengen yang festival, tapi ga mampu. Mampunya tribun atas, tapi ga pengen. Dan gue pun galau. Terus galau sampai jam 5 sore di hari H nya.

Jam 5 sore gue memutuskan : yaudah, ngga usah nonton LP. Sayang kalo ngeluarin uang buat sesuatu yang ngga lo pengenin.

5.05, Bobby ngesms. Na, lo jadi nonton LP kan? Gue jadinya ikut loh. Sampai ketemu di sana ya.

Gue yang dalam kondisi labil, entah kenapa tiba-tiba langsung yakin dan pergi ke GBK. Dalam kondisi belum makan, belum punya tiket.

Huff, labil sekali gue.

Sesampai di sana, sudah ada Lele, Bobby, dan Meme. Mereka sudah punya tiket semua. Semuanya tribune atas. Mereka bilang, kalo gue mau nyalo yang festival, ada Yoga yang nonton di Festival. Gue pun bingung.

Haha.

Akhirnya gue pun memutuskan untuk tetep bareng sama Lele, Bobby, dan Meme, dan nonton di tribune atas. Nyalo, nyalo, dapet deh tiket yang harusnya harganya 750rb jadi 550rb. Lumayang penghematan 200rb.

Begitu masuk ke area Tribun, kami pun langsung memilih tempat duduk di bagian depan. Ngobrol, ngobrol, menahan excitement masing-masing. Sampe ada aba-aba pembuka dari stage, kami pun ga sanggup untuk duduk lagi. Kami meninggalkan tempat duduk kami dan nemplok di pager tribun. Layaknya narapidana lagi protes minta dibebasin.

Daaaaan, show pun dimulai.

Photograph by Yoga Adhi Prabowo

Linkin Park tampil seperti 6 orang satria yang sedang mem-brainwash pasukannya. Semua penonton dari sudut manapun, dari tiket berapapun, tidak lepas memandang 6 ksatria nya. Semua terhipnotis.

Mereka ngga banyak komunikasi verbal dengan penonton untuk menyapa basa-basi. Bentuk komunikasi mereka lebih elegan, melalui urutan lagu-lagu dan visual effect di belakang panggung yang seolah-olah menceritakan hal yang luar biasa penting.


Photograph by Yoga Adhi Prabowo

Mr. Hahn, ksatria jenius yang songong tapi baik hati memainkan seperangkat alat elektronik di hadapannya. Chester yang ksatria urakan berlari-lari dari ujung panggung yang satu ke ujung panggung yang lain sambil berteriak-teriak membakar semangat pasukannya. Mike sang ksatria yang dicintai semua pasukannya, berdiri kalem menjalankan tugasnya dan mengisi kekosongan panggung seorang diri, ketika teman-temannya sedang mempersiapkan diri. Rob, ksatria yang pendiam, duduk anteng tanpa kata, namun tidak henti menggebuk drumset dihadapannya. Pheonix yang bijaksana, bergerak-gerak di depan panggung tanpa mengharapkan sorot lampu atau pandangan terarah kepadanya dan terakhir Brad, ksatria cuek yang tidak peduli pada crowd dan yang lainnya, berputar-putar sendiri dalam dunianya, dan berdiri dengan gagahnya di atas piramid dan memamerkan skill main gitarnya.

Huah.

Gue, temen-temen gue, dan semua crowd yang ada di GBK malam itu benar-benar terhipnotis. Pagar besi di hadapan kami bergerak-gerak dengan liar. Lantai yang kami pijak bergetar seperti jika terjadi gempa. Excitement gue yang ada di tribun aja uda luar biasa ga terbendung. Gimana rasanya yang nonton di festival ya?

Untuk setlist nya sendiri, seperti yang gue bilang sebelumnya, gue bukanlah fans Linkin park. Gue cuma ngikutin dua lagu awalnya aja. Jadinya ya banyak yang ngga ngerti lagunya. Tapi karena crowd dan sound system nya bagus, jadinya gue tetep bisa mengangguk-angguk dan melompat-lompat dengan semangat.

Photograph by Andry "Bobby" Pramanta

Super Awesome!