Michael Jackson

Agak telat emang, tapi emang baru belakangan ini gue menyadari kalo beliau ini benar-benar luar biasa.

Gue inget waktu jaman-jaman Michael Jackson meninggal, pas gue lagi KP, si Lalla heboh banget muter lagu2 MJ dan ngikutin semua perkembangannya. Dan pada waktu itu gue hanya menoleh dan mendengar ala kadarnya. Alasannya sederhana, gue ngga suka musiknya.

Maksud gue, gue mengakui dia sebagai seorang musisi hebat, tapi itu hanya dari opini-opini orang-orang yang mendalami kehebatannya. Tanpa gue mau ambil pusing dan menyelami sendiri kehebatannya. Karena gue merasa gue ngga suka ama musiknya. Gue cuma suka beberapa lagu doang dari seluruh karyanya.

Tapi belakangan, setelah tidak cuma mendengarkan karyanya, tapi mencoba untuk membaca karyanya, gue jadi merasa bersalah karena tidak menyukainya dari dahulu kala. Maksud gue, secar musik, itu memang bukan aliran gue. Gue ga suka musik-musik berdentum. Gue sukanya musik-musik yang digenjreng. Tapi gue adalah pecinta musik dari aspek lyric. dan lyric-lyric lagu-lagu MJ benar-benar luar biasa.

Kalo gue jadi artis jaman sekarang, gue pasti malu banget ama diri gue. Apalagi artis-artis berdentum yang isi lagunya ngga jauh-jauh soal sex, money, or drugs. Atau artis-artis yang isi lagunya cuma keluhan karena patah hati dan ratapan karena ditinggalin. Man, kalo gue kadi mereka pasti gue ngerasa malu banget.

Dengan dentuman yang sejenis, MJ bisa menyelipkan banyak pikiran, perasaan, dan pendapat dia tentang segala sesuatu yang BESAR dan PENTING. Poverty, diskriminasi, lingkungan, hal-hal berat kayak gitu bisa dia sampaikan dengan padat, dalem, tapi tetep dengan balutan musik berdentum yang enak buat joget. Dan kalo baca lyricnya satu demi satu gue merasa dia bener-bener nulis itu semua karena dia pengen. Bukan karena dia harus.

Jangan hujat MJ. Hargai dia. Hargai musiknya. Hargai karya-karyanya.

NB: kadang gue ngerasa pendapat semakin lo sukses, maka lo akan semakin ngga punya siapa-siapa itu bener. Sedih ya.

Perhitungan ala Randi

Randi selalu bilang, nanti jodoh gue adalah temen baik gue sendiri. Karena ini bertentangan dengan love-life-rule gue, gue selalu mempertanyakan kebenaran hal ini ke Randi. Tadi juga.

“Uda Na, ama anak TI aja. Kan anak TI 2006 banyak, ada 100 orang cowoknya!”
“Iya 100 orang, tapi 70% uda taken. Berarti tinggal sisa 30 orang”.
“Yah, berarti gue masuk ke 30 orang itu dong!”
“Iya, dari 30 orang 20% gak islam! Berarti tinggal 24 orang”
“Terus dari 24 orang, 50% anak gamais *yang ga mau pacaran*. Berarti tinggal 12 orang”
“Dari 12 orang, ada lo ama si itu yang uda jelas-jelas suka ama orang lain. Jadi tinggal 10 orang”
“Dan dari 10 orang itu ada cowok-cowok tipe BFF yang ga mungkin lo suka. Paling tinggal 8 orang”
“Iya ya. Coba Rand sebutin 8 orang yang tersisa itu!”
“Belum selesai, Na! Dari 8 orang, kemungkinan 90% ga suka ama lo!”
“Jadi sisanya tinggal berapa Rand? Ngga nyampe satu ya?”

Tragis banget ya!

TELETUBBIES

Hari ini waktu kuliah TA 1, salah satu dosen gue menceritakan sesuatu yang menarik. *dan ga ada hubungannya sama mata kuliah itu. Haha!* Jadi hari itu, beliau menceritakan asal mula teletubbies. Menurut sumber yang beliau baca, teletubbies berasal dari kata tele yang berarti jauh dan tub yang berarti tabung.

Jadi teletubbies berarti tabung yang berasal dari tempat yang jauh. Menurut beliau, penafsiran dari penamaan itu adalah, pada masa mendatang jenis kelamin bayi tabung aka nada empat jenis yang direpresentasikan dari antenna yang berada di atas kepala masing-masing tokoh tersebut.

Po memiliki bentuk antenna yang bundar. Bentuk antenna tersebut merepresentasikan symbol wanita. Jadi Po merupakan representasi dari jenis kelamin pertama, yaitu wanita.

Tinky Winky memiliki bentuk antenna berupa segitiga terbalik. Bentuk antenna tersebut merepresentasikan symbol wanita yang bersikap seperti laki-laki. Jadi Tinky Winky adalah representasi dari jenis kelamin yang kedua, yakni wanita kelaki-lakian.

Dipsy memiliki bentuk antenna berupa garis yang lurus ke atas. Bentuk antenna tersebut merepresentasikan symbol pria. Jadi Dipsy adalah representasi dari jenis kelamin yang ketiga, yakni laki-laki tulen.

Terakhir, Lalla memiliki bentuk antenna berupa garis lurus yang melingkar di tengah. Bentuk antenna tersebut merepresentasikan symbol pria yang bersikap seperti wanita. Jadi, Lalla adalah representasi dari jenis kelamin keempat, yakni laki-laki kewanita-wanitaan.

Saat mendengar fakta itu, otak gue langsung terbagi dua. Di satu sisi, gue ngeri sendiri karena dunia uda makin gila. Masa, jenis kelamin “tidak tegas” kayak gitu diakui dan DIJADIKAN TONTONAN BALITA! Paraah! Tapi di satu sisi otak gue malah menganalisis sesuatu yang ngga penting. Menurut gue, representasi antenna dengan sikap dan penokohan karakter di serial itu ngga sesuai.

Sesuai dengan nama, warna, mainan, dan suara mereka. Kalo menurut gue lebih cocok kalo Dipsy itu cowok tulen, Tinky Winky itu cowok yang kayak cewek, Lalla itu cewek tulen, dan Po itu cewek yang kayak cowok.

Dipsy suara gede, muka item, warna ijo, maenannya topi. Cowok banget. Tinky Winky, suara ngebas, tinggi gede, warna UNGU, maenannya tas kempit. Agak2 bencong gitu kan. Lalla, suara cempreng, warna kuning, maenannya bola gede, sambil tereak-tereak cempreng. Menurut gue sih cewe banget. Kalo si Po, warna merah, suara kayak cewek, tapi mainannya scooter. Kesannya tomboy gitu.

Tapi kalo berdasarkan bentuk antenna, emang penjelasan dosen gue lebih representative. Hoho.

Tetep aja nyeremin kaan?

(One Of) The Most Embarasing Moment In My Life

Entah kenapa gue tiba-tiba pengen menuliskan “pengalaman” gue yang satu ini. Walopun gue rasa, “pengalaman” ini akan mempermalukan gue dihadapan semua orang yang membacanya. But this is me, right.

Hari itu gue ada rapat jam 14.00, dan gue uda ga ada kuliah mulai jam 11.00. Gue ga ada kerjaan, bingung mau ngapain, dan ga ada temen buat duduk-duduk bengong di kampus. Alhasil, gue ngikut Lalla ama Wina yang mau sampling buat tugas simulasi komputer di salah satu bioskop di kota Bandung. Gue mikirnya, ya lumayan, ada temen buat makan siang dan gue bisa belanja-belanja sendiri. Kan baru dapet voucher belanja gratis dari bude gue. Oke, akhirnya kita bertiga pun berangkat.

Sesampai di sana, kami bertiga pun makan. Setelah itu, Lalla dan Wina mulai melakukan sampling aneh dengan berdiri di kiri kanan counter tiket bioskop, entah nyatetin apa. Mereka harus berdiri berjam-jam demi dapetin tuh data. Trus seketika gue merasa beruntung karena milih tempat sampling di hotel. Jadinya gue ama Dwi tinggal duduk manis di sofa sambil nyatetin pengunjung check-in dan check-out. Dan lebih enaknya lagi, kita berdua bisa sambil hotspot-an di lobby hotel. Hahaha.

Kembali ke kejadian hari itu, karena ga betah ikut-ikutan berdiri, akhirnya gue memutuskan untuk mulai belanja sendirian. Tujuan utama gue adalah sepatu. Muter sana-sini, cobain hampir semua sepatu yang menarik hati, akhirnya gue memutuskan untuk membeli sepatu open toe warna pink pucet. Sip, bungkus.

Tadinya gue mau langsung pamit ke Lalla dan Wina terus langsung cabut ke kampus buat rapat. Ternyata, oh ternyata, gue tiba-tiba mules. Dari sini nih, kejadian buruk mulai terjadi. Rencana pun berubah, jadinya gue memutuskan untuk mampir ke bioskop, numpang buang air besar *biar bahasanya sopan*, pamit ke Lalla dan Wina terus langsung cabut ke kampus.

Rencana pun dieksekusi, lalalalalala, WC bioskop ternyata rame, kayaknya baru bubaran nonton deh. Ngantri bentar, dan gue pun masuk salah satu bilik WC. Selanjutnya, I did what I should, dan malang mulai menimpa gue. KLOSETNYA GA BISA DISIRAM! Ga keluar airnya sama sekali. Oh my god! Mana di luar ngantri, banyak orang, pasti orang-orang di luar bilik bertanya-tanya apa yang terjadi ama gue. Mati gue!

Segala cara gue lakukan, mulai dari nyiram pake semprotan sampe mencet-mencet tombol flush sambil berdoa. Nothing happened. Gue mulai tambah panik. Keringet dingin mulai keluar, hobi ngeliatin jam gue kambuh, I don’t know what to do.

Akhirnya gue memutuskan untuk nunggu ampe tuh WC sepi, dan akan menurunkan harga diri gue untuk minta bantuan ke mbak-mbak janitor yang sedari tadi ngepel di depan bilik gue. *Coba ga ada mbak-mbak janitor itu, gue pasti uda kabur dan masang muka tak berdosa. Hahaha*

Gak lama kemudian, dari bolongan kaki bilik WC, gue bisa memastikan uda ga ada orang lain selain mbak-mbak janitor yang ada di luar bilik WC gue. Dengan menebalkan muka setebel-tebelnya, dan bersumpah gak akan pernah lagi menginjakkan kaki di WC bioskop tersebut, akhirnya gue pun memberanikan diri untuk ngomong, “mbak, maaf klosetnya ga bisa di-flush. Airnya gak mau keluar. Cara nge-flush-nya gimana ya?” sambil nutup kloset gue. Biar mbak-mbaknya ga usah melihat benda yg tidak sepatutnya dia lihat.

Oh Tuhan, kenapa sesuatu yang konyol dan memalukan sering sekali menimpa diriku?

Dengan muka masam, si mbak-mbak janitor memperagakan jurus yang sama sekali ga terpikirkan oleh gue sebelumnya, ngebuka tempat penyimpanan air di kloset, kemudian mengisinya pake semprotan ampe ketinggian tertentu, setelah itu menekan tombol flush-nya. Dan secara ajaib air pun mengalir deras dan “benda itu” pun menghilang. Alhamdulillah.

Setelah merasa luar biasa lega, akhirnya gue berterima kasih pada mbak-mbak itu dan bergegas secepat mungkin keluar dari tempat maksiat itu. Habis itu, gue pamitan ama Lalla dan Wina dengan muka polos tanpa dosa seakan-akan gue baru nyampe dan tidak mengalami “kejadian” yang super memalukan tadi. Gue berpikir akan menceritakannya pada Lalla saat gue uda sembuh dari shock dan gak akan pernah menceritakan “kejadian” ini pada Wina, karena Wina adalah tukang menghina nomor satu di seluruh dunia. Kalo gue certain, bisa-bisa gue dihina ampe gue mati nih. Tapi akhirnya gue gak tahan, dan beberapa waktu yang lalu, gue pun menceritaknnya juga pada Wina. *dan seperti dugaan gue, gue akan selalu dihina-hina oleh Wina*.

Moral : BUAT S.O.P CARA MENGE-FLUSH DI KLOSET YANG GAK NORMAL, PLEASE! JANGAN BUAT PELANGGAN ANDA MALU SEPERTI SAYA.

Nick and Norah's Infinite Playlist

-----------------------------------------------------------------
Director : Peter Sollett
Cast : Michael Cera, Kat Dennings
Genre : Comedy | Drama | Music | Romance
Year : 2008
-----------------------------------------------------------------


Banyak hal yang sangat gue suka dari film ini. Mulai dari menu DVD dan opening credit yang bagus banget *one of my favorite beside Napoleon Dynamite*, faktor Michael Cera yang sudah menarik hati sejak Superbad dan Juno, gambar-gambar yang ada di film ini, kelinci shocking pink logo where’s fluffy dan banyak hal lainnya. Tapi hal yang paling menarik hati gue adalah ide music soulmate yang di dunia nyata bisa banget terjadi.

Waktu nonton film ini, gue teringat temen SD gue, Delta yang sering cerita tentang dia dan perempuan yang dia suka yang merupakan music soulmate. Waktu gue mau merekomendasiin film ini karena ceritanya mirip ama cerita dia, Delta malah bilang ini emang film mereka berdua banget. Hoho, manis sekali ya!

Hal lain yang menurut gue sangat amat manis dari film ini adalah dialog tentang lagu I Wanna Hold Your Hand nya The Beatles. Gue lupa detil dialog-nya gimana, yang jelas mereka setuju dengan The Beatles dan menganggap bahwa holding hands adalah hal puncak dalam sebuah hubungan. “They figured it out!” kata mereka muji The Beatles. Terus di akhir film, representasi I wanna hold your hand nya bener-bener mengena, dan membuat gue bertanya-tanya, apa iya puncak dari sebuah hubungan adalah holding hands?

Karena menganggap film ini bagus, gue melakukan riset kecil-kecilan tentang film ini. Ternyata film ini itu diangkat dari novel berjudul yang sama. Gue belum baca novelnya, tapi dari baca sinopsisnya dikit aja, uda ada perbedaan yang sangat mendasar antara film dan bukunya.

Kalo di film, Norah minta Nick jadi pacarnya selama 5 menit untuk bikin temennya yang annoying percaya kalo dia punya pacar, dan ternyata temennya yang annoying itu adalah mantan pacarnya Nick yang belum bisa dilupain sama Nick.

Sedangkan kalo di novelnya, Nick yang minta Norah untuk jadi pacarnya selama 5 menit untuk membuat mantan pacarnya annoyed.

Gue belum baca novelnya, jadi ga bisa memutuskan versi mana yang lebih bagus dan lebih logis. Tapi yang gue heran, kenapa sih Hollywood suka melakukan perubahan-perubahan fundamental pada sebuah karya tulisan yang dia angkat sebagai film? Dan kenapa para penulis mengizinkan para produser dan sutradara mengubah visualisasi karya mereka seenak jidatnya. Kan hal seperti itu bikin orang yang sudah membaca dan mencintai bukunya sangat kecewa.

Secara keseluruhan, gue suka sama film ini. Not another teen movie, walaupun karakter cewek sexy tukang bully yang selalu ada di hampir semua film remaja tetep ada.

Review Film Liburan #2

5. Watchmen

Sebelum gue nonton, banyak yang bilang filmnya sampah. Tapi gue tetep penasaran pengen nonton karena gue suka 300, karya si sutradaranya sebelumnya. Jadilah gue tetep nonton film ini. Bareng Tiwi sama Lalla. Dan mereka ketiduran.

Menurut gue sih ngga salah kalo review film ini dari temen-temen gue jelek, dan Tiwi ama Lalla bisa ketiduran, karena film ini terlalu segmented. Cuma buat orang-orang yang ngerti dan baca komiknya doang. Salahnya, film se-segmented ini dikemas dengan promosi yang heboh, seolah-olah ini film popcorn. Jadi banyak yang tertipu.

Kalo menurut gue sih, idenya sebenernya keren banget. Melihat superhero dari sisi yang berbeda. Kalo superhero itu ga selamanya putih bersih. Mereka juga manusia biasa yang kadang-kadang bingung dan salah melangkah. Tapi mungkin yang bikin ngeselin adalah porsi penjelasan untuk masing-masing karakter terlalu lama, tapi ngga dalem. Jadi, bosen dan ngga ngerti.

Kalo dari gambar sendiri, masih jauh dari 300 yg menurut gue keren banget. Gambar di sini, bagus, tapi ngga indah. Haha. Kalo dari cerita inti, menurut gue keren banget! sayangnya porsi cerita intinya kelelep ama porsi perkenalan tokohnya. Padahal kalo menurut gue, cerita intinya KEREN BANGET! motif si villain nya ga biasa. Motifnya berbuat onar membuat motif villain-villain lainnya terlihat cupu!

Rateraterate : 7.5/10

6. Burn After Reading

Gue percaya sama Brad Pitt. Itu adalah alesan kenapa gue kekeuh nonton film ini. Biasanya gue memilih untuk nonton film-film kayak gini di rumah lewat DVD karena biasanya film-film kayak gini ngga sempet masuk bioskop. Tapi ternyata masuk, dan ada Brad Pitt di dalemnya, jadi gue mau deh nontonnya.

Kalo menurut gue nonton film bergenre seperti ini itu menambah dosa. Karena kita, para penonton, tertawa bukan karena adegan-adegan yang dibuat lucu, tapi kita tertawa karena orang-orang di film itu pantas untuk ditertawakan dengan jahat. Sebenernya sih, tega ga tega. Tapi kocaaaakkkk banget.

Banyak adegan-adegan yang menarik untuk ditertawakan, tapi ngga bisa gue tulis kalo ngga mau spoiler. Karena unsur tidak disangka-sangka itulah yang membuat kelakuan para karakter di film ini pantas untuk ditertawakan. Keunggulan lainnya adalah karakter-karakter yang diciptakan Coen Brother bener-bener ajaib. Tapi logis. Haha.

Ngga spektakuler sih, tapi cukup menghibur.

Rateraterate : 6.5/10

7. UP

Disney emang ngga pernah mengecewakan gue. Setelah dicengangkan dengan kejeniusan Wall-e, sekarang gue dibumbungkan begitu tinggi dengan UP. Sebuah film yang begitu manisssssssssssssssssssss.

Film ini, bikin gue ngga bisa mingkem sepanjang film. Gue terus menerus senyum karena kemanisannya. Gila, efek manisnya itu luar biasa sekali. Ngga bohong!

Selain efek manisnya, film disney selalu menyimpan moral yang begitu besar! Moral yang gue tangkep dari film ini:
1. Se ngga mungkin apapun mimpi lo, asal lo mau yakin dan berusaha, pasti bisa kewujud.
2. Ngga ada kata terlambat buat ngeraih mimpi.
3. Ada hal-hal yang lebih penting dari lo dan mimpi lo. Dan pada saat-saat seperti itu lo baru boleh GIVE UP mimpi lo. Kalo ngga, ya ngga boleh.
4. Mimpi bisa berubah.

Semua orang, tontonlah film ini bersama orang-orang yang kamu sayangi. Orang-orang yang butuh motivasi, dan percaya sama kekuatan mimpi.

Rateraterate : 9.0/10

8. Public Enemies

Demi kecintaan gue pada Johnny Depp, gue rela mengejar film ini sampe ke Jakarta. Karena takut ngga akan nyampe ke bandung kayak star trek. Review orang-orang sana-sini, bilangnya filmnya biasa aja, tapi Johnny Depp nya menghipnotis (ya iya lahhhhh!).

Dan setelah menontonnya, gue benar-benar setuju ama review teman-teman gue. Johnny Depp nya luar biasa. Peran apapun yang dia mainkan, pasti bikin gue jatuh cinta pada peran itu. (kenapa sih orang seperti Depp diciptakan di dunia ini, dan gue ngga dikasih kesempatan buat kenal ama dia?????).

Ke-ngga logisan di sana-sini, sama sekali ngga membuat Johnny Depp jadi cacat. John Dillinger bener-bener jadi seseorang yang keren di mata gue, karena akting si Depp yang begitu loveable. Ke-tidak logis-an itu antara lain adalah kebodohan para polisi yang ngga ngenalin john dillinger, padahal dia ngga nyamar sama sekali. Apalagi adegan celingak-celinguk di bioskop. Itu kocak abis dah!

Ada quote yang gue suka, "I like baseball, movies, good clothes, whiskey, fast cars... and you. What else you need to know?" Andai semua orang se-straightforward itu (dan kayak johnny depp, dan suka ama gue).

Rateraterate : 7.0/10

Review Film Liburan #1

1. Transformer Revenge of the Fallen


Sejak awal nonton film pertamanya juga, gue ngerasa film ini tuh bener-bener sebuah rangkuman hal-hal yang ada di otak seorang cowok. Mobil-mobil keren, robot-robot canggih, cewek-cewek sexy, adegan gedubruk-gedubruk-jedar-jedor, semua di rangkum dalam satu film.

Seri kedua transformer ini, masih memakai formula yang sama, bedanya porsi drama nya bener-bener diminimasi di film ini. Hubungan orang tua anak, kasih sayang ke mobil pertama, hubungan percintaan, semuanya masih tetep ada, tapi ngga ada gregetnya lagi. Gue rasa Michael Bay uda keasikan sama mainan special effect rorobotannya. (yang harus diakui emang makin bagus).

Cerita The Fallen-nya sendiri agak sulit dimengerti oleh orang awam yg ngga ngikutin versi kartunnya. Soalnya, kata temen gue yg ngikutin, itu jelas bgt. itu versi kartunnya banget. oke. Yang agak-agak mengganjal adalah kesulitan gue dalam membedakan antara satu robot dengan robot yang lain. Terutama si robot jahat yang ngga warna-warni.

Masuk ke hal-hal favorit gue dalam film. Pertama dan tentunya, JOSH DUHAMEL. Oh, He's so hot! Sepanjang film, gue dan Lalla heboh ngga jelas kalo Josh Duhamel muncul. Ga peduli akting atau karakternya yg cuma sepintas lalu, yg jelas keberadaannya bener-bener bikin para wanita ngga bisa diem (dan kata ira, si Wina ngegaruk-garuk dia tiap Josh Duhamel muncul). Kedua dan terakhir adalah karakter si robot udzur. Huahaha, dia kocak banget. Scene stealer banget deh!

Rateraterate : 5.5/10

2. King dan Garuda di Dadaku

Karena ditayangkan dalam waktu yang berdekatan, mengusung tema yang sama dan sama-sama dibintangi bocah-bocah berbakat, gue mau ngga mau harus ngebandingin dua film ini.

Kedua film ini mengangkat tema yang sama, yakni mengejar mimpi di dalam bidang olah raga. Bedanya, yang satu bulu tangkis, yang satu sepak bola. Kedua film ini gue rasa sama-sama ingin membukakan mata anak-anak Indonesia kalo asal kita bener-bener pengen dan mau berusaha sekuat mungkin, kita pasti bisa meraih apa yang kita mau. Apapun halangan yang ada di depan mata, pasti akan bisa kita atasi. Dan gue pribadi sangat sepakat dan mempercayai hal itu.

Secara head to head, gue ngerasa Garuda di Dadaku sedikit lebih unggul dibandingkan King karena faktor akting dan detil budaya karakter di dalam film. Kalo dari segi cerita, dua-duanya sama-sama bagus. Akting anak-anak di garuda di dadaku lebih alami dan lebih mencerminkan anak-anak jakarta yang sebenarnya. Sok tahu, sok gede, tapi tetep lucu. Kalo di King, gue ngerasa masih agak kaku, dan logat jawa timurnya agak-agak kurang pas di sana-sini. Tapi over all dua-duanya bagus dan bermoral.

Rateraterate : 8.0/10

3. Harry Potter and The Half Blood Prince

Waktu pertama kali nonton, gue ngerasa ini adalah salah satu film Harry Potter yang paling ampas yang pernah gue tonton. Teen Romance yang ngga gitu penting porsinya jauuh lebih banyak ketimbang penjelasan mengenai half blood prince nya itu sendiri (Hello, itu judulnya lho!). Hal yang paling gue maki-maki dari keseluruhan film (yang lainnya paling cuma "aaaah, apaan sih?") adalah adegan Ginny naliin tali sepatunya Harry! Ya ampuun, itu ngga maksud banget! Manis pun ngga! Pokoknya, hari pertama pemutaran film ini, gue keluar dengan merengut kecewa.

Tapi, karena gue merasa janggal si sutradaranya bisa se-ampas ini, gue memutuskan untuk nonton lagi. Dan yang gue heran, saat nonton untuk yang kedua kali, gue jadi ngerasa filmnya bagus. Haha, aneh kaan? Gue mulai paham tujuan si sutradaranya. Gue rasa dia sengaja memberikan porsi yang banyak untuk teen romance yang ngga penting, dan membuat film jadi ringan banget, dengan tujuan membuat adegan dumbledore di goa yang jadi cover bukunya jadi klimaks banget. Dan saat nonton untuk yang kedua kali, gue ngerasa, scene itu bener-bener keren. Rasa capek dan pengorbanan dumbledore bener-bener kerasa banget. Ffuih!

Maafkan saya David Yates karena sudah menghina-dina lo saat pertama kali nonton.

Rateraterate : (4.5 + 8.0)/2 = 6.25/10

4. Ice Age : Dawn of the Dinosaurs

Ngga pernah nonton serial sebelumnya. Ngga tertarik, dan tetep ngga suka waktu nonton seri ketiganya. Ngga jelek, cuman ngga suka aja. Jadi ngga bisa ngasih penilaian secara objektif. (lagian, gue juga ngga 100% nonton, orang gue YM-an sepanjang film. Haha!)

Scene stealer jatuh kepada dua hewan yang saling memperebutkan kacang (atau apapun itu) dan akhirnya saling jatuh cinta. Tanpa dialog apapun, scene demi scene yang dibintangi kedua hewan itu, terasa manis dan konyol. Hahaha.

Rateraterate : 5.0/10


The Beaver

The Beaver